Back

Refleksi Pertumbuhan Indonesia

Kalau kita ditanya, “Apa permasalahan terbesar negara hari ini?” mayoritas mungkin akan menjawab bahwa pemerintah atau sistemnya kurang ini, kurang itu, atau masyarakat kurang diberi ini, kurang diberi itu. Ada kecenderungan untuk selalu melihat kekurangan dari sudut pandang apa yang negara “tidak” berikan kepada masyarakat.

Namun, ada kisah menarik dari seorang penulis Inggris, G.K. Chesterton, ketika ia menjawab sebuah pertanyaan mengenai “Apa yang salah dengan dunia ini?” Jawabannya singkat: “Saya.” Artinya, bukan hanya struktur negara yang bermasalah, tetapi kita, sebagai warga negara, juga berkontribusi pada masalah tersebut karena kita tidak bertumbuh sebagai warga negara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Maka, ketika kita bicara tentang negara, masalah terbesarnya bisa jadi adalah kita—warga negara yang tidak berkembang.

Mari kita ambil contoh negara Indonesia, yang telah merdeka selama hampir 80 tahun. Apakah usia kemerdekaan itu berarti kita sudah dewasa sebagai bangsa? Jawabannya belum tentu. Jika 80 tahun ini diisi dengan pertumbuhan yang signifikan, itu tentu hal yang positif. Namun, jika pertumbuhan tersebut mandek, stagnasi ini justru menjadi pengingat akan perlunya refleksi lebih dalam.

Negara yang bertumbuh adalah negara yang warganya mengalami perkembangan dalam cara berpikir, bertindak, dan berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa. Ini berarti warga negara tidak hanya menuntut hak dan fasilitas dari negara, tetapi juga memahami kewajiban mereka untuk berkontribusi pada keberlanjutan dan kemajuan negara. Kewajiban ini termasuk di dalamnya partisipasi dalam proses politik, kepatuhan terhadap hukum, dan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi serta sosial.

Dalam konteks ini, masalah terbesar yang dihadapi banyak negara adalah bahwa sebagian besar warganya belum mencapai kedewasaan dalam pemahaman politik dan sosial. Warga negara yang tidak dididik untuk memahami peran mereka cenderung terjebak dalam pola pikir yang hanya fokus pada tuntutan dan hak, tanpa memperhatikan tanggung jawabnya. Akibatnya, negara bisa mengalami stagnasi, meskipun secara usia sudah cukup tua.

Pada akhirnya, pertanyaan yang kita hadapi adalah: apakah negara kita, setelah puluhan tahun berdiri, sudah benar-benar mengalami pertumbuhan yang sehat dan seimbang? Ataukah kita masih terjebak dalam pola pikir remaja yang terus-menerus meminta dan menuntut, tanpa mau bertumbuh dan memikul tanggung jawab bersama? Waktu yang akan menentukan, tapi hanya jika kita mulai menyadari bahwa kita juga bagian dari masalah, dan kita juga harus menjadi bagian dari solusi.